Di sebuah lukisan karya Pieter van der Lyn, seorang tabib sedang melakukan prosedur yang membuat kita meringis hari ini, trepanasi tengkorak sementara pasien terkunci dalam posisi yang mustahil. Lukisan itu, yang dibuat pada tahun 1700-an, bukanlah gambaran tentang kebrutalan dokter pada masa itu; ini adalah representasi dari praktik kedokteran yang saat itu dianggap maju dan modern.

Kedokteran kuno adalah dunia yang sangat berbeda dari yang kita kenal sekarang. Sebelum kita memahami bahwa kuman menyebabkan penyakit, sebelum kita punya anestesi yang efektif, sebelum kita punya pemahaman dasar tentang anatomi, penyembuh mencari jalan mereka melalui coba-coba, ritual, dan spekulasi yang berani.

Tabib dan Tukang Jamu

Lukisan-lukisan dari era Barok dan Renaissance sering menggambarkan tabib dan dukun dengan campuran penghormatan dan skeptisisme. Di satu sisi, mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki orang biasa. Di sisi lain, banyak dari praktik mereka, yang kita ketahui sekarang, lebih banyak merusak daripada menyembuhkan.

Pertimbangkan bagaimana kita memandang prosedur bedah modern. Dalam lukisan-lukisan era Victoria, operasi adalah tontonan publik. Pasien dijepit di kursi khusus, kursi pengikat, sementara dokter bekerja secepat mungkin karena belum ada anestesi yang efektif. Pasien bisa berteriak, melolong, atau bahkan pingsan karena syok. Penonton menonton dari tribun seperti mereka menonton teater.

"Operasi adalah tontonan, darah, jeritan, dan detak jam yang tak henti. Reputasi dokter dibangun bukan hanya dari keterampilan, tapi dari kecepatan. Semakin cepat bekerja, semakin sedikit penderitaan pasien. Setidaknya itu yang mereka percaya."

Lukisan sebagai Saksi Sejarah

Une leçon clinique à la Salpêtrière oleh André Brouillet, 1887
Une leçon clinique à la Salpêtrière (1887) oleh André Brouillet — Dr. Jean-Martin Charcot mendemonstrasikan kasus histeria kepada para mahasiswa kedokteran.

Salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah kedokteran adalah "Une leçon clinique à la Salpêtrière" karya André Brouillet (1887). Lukisan ini menggambarkan Dr. Jean-Martin Charcot, salah satu pendiri neurologi modern, sedang memeriksa seorang pasien histeria di Rumah Sakit Salpêtrière, Paris.

Charcot mempelajari histeria sebagai kondisi neurologis nyata, bukan sekadar histeria perempuan. Dalam lukisan itu, kita melihat seorang wanita muda, mungkin "Augustine" atau pasien serupa, dalam kondisi trans, sementara Charcot dengan tenang menunjukkan gejalanya kepada sekelompok dokter muda yang serius. Ini adalah momen yang mengubah sejarah kedokteran: penyakit yang dulu dianggap sebagai masalah "perut" atau rahim, ternyata memiliki basis neurologis.

Seni punya cara unik untuk membuat kita merasakan ketidaknyamanan yang tidak bisa diberikan oleh teks sejarah. Ketika kita melihat lukisan dari prosedur medis era dulu, kita tidak hanya membaca tentang mereka, kita merasakan secara langsung betapa berbahayanya proses itu.

Ada sesuatu yang mengganggu sekaligus memesona tentang bagaimana seniman menggambarkan tubuh dalam konteks medis. Goresan cat di atas kanvas membawa kita ke ruangan tempat darah dituangkan dari vas ke lantai. Ke mana para dokter membuang anggota tubuh yang diamputasi. Bagaimana ruangan itu bau, dan bau seperti apa yang digambarkan sebagai bagian dari pengalaman.

Dari Trepanasi ke Anestesi

Trepanasi, mengebor lubang di tengkorak untuk meredakan tekanan atau "melepaskan setan," adalah salah satu prosedur bedah tertua yang diketahui. Bukti trepanasi ditemukan di banyak peradaban kuno: dari Mesopotamia hingga Peru, dari Afrika hingga Polinesia.

Kadang-kadang, pasien benar-benar merasa lebih baik setelah prosedur, mungkin karena tekanan intrakranial berkurang, atau mungkin karena efek plasebo yang kuat.

Trepanasi dalam lukisan Hieronymus Bosch
Detail trepanasi dari lukisan Hieronymus Bosch, menggambarkan prosedur pengeboran tengkorak yang dianggap sebagai pelepasan kekuatan jahat.

Berabad-abad kemudian, anestesi muncul dan mengubah segalanya. Tapi transisi itu tidak mudah. Ether dan kloroform, meskipun efektif, membawa risiko mereka sendiri. Banyak dokter dan pasien sama-sama awalnya skeptis tentang apakah membiarkan diri tidak sadar selama operasi adalah ide yang baik.

Makna di Balik Kanvas

Mungkin hal paling mengejutkan tentang melukis praktik medis kuno adalah apa yang mereka ungkapkan tentang harapan manusia. Di setiap era, orang mencari cara untuk memahami dan mengatasi penderitaan. Menciptakan ritual, alat, dan teknik yang, betapapun mengerikannya bagi kita sekarang, merupakan upaya jujur untuk meredakan rasa sakit dan memberi makna pada kematian.

Saat kita melihat lukisan-lukisan ini, kita tidak hanya melihat masa lalu. Kita melihat cermin. Karena kedokteran modern, dengan semua pencapaiannya, juga akan tampak mengerikan bagi generasi yang akan datang. Prosedur yang kita anggap rutin hari ini mungkin akan membuat cucu-cucu kita mengangkat alis dengan horor yang sama.

Inilah kekuatan seni: ia membuat kita merasa, bukan hanya mengetahui. Dan dalam kasus praktik kedokteran kuno, perasaan itu adalah campuran dari ketidaknyamanan, kekaguman, dan terima kasih bahwa kita tidak hidup di era itu, betapapun cantiknya lukisannya.

Sumber