Di penghujung abad ke-19, sebuah gerakan muncul yang menantang segala sesuatu yang dijanjikan modernitas: bahwa kemajuan akan membawa kebahagiaan, bahwa sains akan menjawab semua pertanyaan, bahwa sejarah bergerak menuju tujuan yang jelas. Simbolis menolak semua itu. Mereka justru beralih ke hal-hal yang tidak dapat dijelaskan, mimpi, mitos, rahasia, kematian, dan membuat seni darinya.

Simbolisme bukan gaya dengan aturan yang jelas; ia adalah sikap. Seniman simbolis menggunakan gambar dan metafora untuk mengekspresikan apa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Mereka menarik mundur dari realitas konkret dan bekerja di wilayah antara, antara terjaga dan tidur, antara yang terlihat dan yang tak terlihat.

Lelang Kesunyian

Gustave Moreau, yang sering dianggap sebagai bapa Simbolisme, melukis wanita-wanita dari mitos dan legenda dengan cara yang berbeda dari dunia nyata. Figur seperti Salome, Electra, dan Sphinx muncul dalam lukisannya dikelilingi oleh gas beracun, warna yang tidak alami, dan detail yang tidak bisa dijelaskan. Mereka tidak memiliki hubungan dengan sejarah, mereka ada dalam wilayah simbol murni.

Moreau tidak ingin karyanya disukai publik. Ia dengan sadar menciptakan lukisan yang membutuhkan waktu untuk dipahami, seperti puisi yang terbuka dengan setiap pembacaan baru. Dalam ini ada revolusinya: seni sebagai undangan untuk bermeditasi, bukan sebagai informasi.

"Simbolisme adalah seni tentang pertanyaan, bukan jawaban. Setiap gambar adalah meditasi, dan setiap meditasi mengarah ke pertanyaan yang lebih dalam."

Morisot dan Redon: Suara-suara yang Berbeda

Yang sering dilupakan dalam narasi Simbolisme adalah kontribusi perempuan. Berthe Morisot, yang bekerja bersamaan dengan Impressionists, membawa sensitivitas yang berbeda ke dalam gerakan: tidak ada yang tahu bagaimana menggambar emosi melalui gestur yang lebih halus daripadanya. Lukisan-lukisannya tidak memiliki narasi yang jelas — mereka lebih mendekati sensasi murni.

Odilon Redon, di lain pihak, menciptakan dunia yang dihuni oleh makhluk yang tidak ada dalam alam: mata dalam kegelapan, figur tanpa wajah, bunga yang berbicara. Seninya adalah undangan ke dunia yang berada di dalam kita, bukan di luar.

Odilon Redon - The Cyclops, c. 1914
Lukisan simbolis tidak memberikan jawaban, mereka mengundang pertanyaan yang lebih dalam tentang keberadaan manusia.

Tidak Ada Narasi, Hanya Meditasi

Hal yang mendefinisikan Simbolisme bukan hanya subjeknya, tapi pendekatannya terhadap waktu. Ketika kita melihat lukisan akademik, kita mengharapkan untuk bisa langsung memahami apa yang terjadi, ada adegan, ada aksi, ada cerita. Simbolisme tidak bekerja dengan cara ini.

Kamu bisa berdiri di depan lukisan simbolis selama berjam-jam dan masih merasa bahwa ada sesuatu yang belum kamu pahami. Ini bukan kelemahan; ini adalah intensi. Pelukis simbolis ingin seni itu menjadi seperti pertanyaan fundamental, sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya dijawab, hanya dipertanyakan kembali.

Warisan yang Hidup

Simbolisme tidak pernah benar-benar mati, ia hanya berubah nama. Surealisme adalah Simbolisme yang berubah nama di era Freud: Dalí dan Magritte bekerja dalam tradisi yang sama menggunakan citra untuk mengeksplorasi ketidaksadaran. Ekspresionisme abstrak adalah Simbolisme tanpa figur, di mana warna dan bentuk menjadi simbol-simbol dari dunia batin.

Bahkan dalam budaya populer kontemporer, kita masih bekerja dalam kerangka simbolisme. Film-film Christopher Nolan — "Inception," "Interstellar" — adalah simbolisme dalam kostum modern: gambar yang tidak hanya mewakili diri mereka sendiri, tapi berfungsi sebagai metafora untuk pertanyaan eksistensial yang tidak memiliki jawaban.

Mengapa Simbolisme Masih Matter

Di dunia yang terus-menerus menawarkan jawaban, Simbolisme menawarkan sesuatu yang semakin jarang: kenyamanan dalam ketidakpastian. Ia mengajarkan kita bahwa tidak semua yang penting bisa diucapkan, bahwa beberapa pengalaman membutuhkan waktu untuk terbuka, dan bahwa seni tidak harus memberikan segalanya dalam satu viewing.

Mungkin itulah yang kita butuhkan sekarang: bukan lebih banyak informasi, tapi lebih banyak ruang untuk ketidaktahuan. Simbolisme adalah latihan dalam kerendahan hati epistemologis, mengakui bahwa ada lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang bisa kita bayangkan, dan bahwa dalam ketidaktahuan itu, ada keindahan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Ketika kamu melihat lukisan simbolis, jangan tanya apa artinya. Tanya apa yang tidak bisa dikatakan. Dan biarkan ketidaktahuan itu sendiri menjadi jawabannya.

Sumber