Jacob dan Wilhelm Grimm mempublikasikan edisi pertama Kinder- und Hausmärchen pada 1812. Saat itu, Jerman belum bersatu. Perang Napoleon baru saja berakhir, dan wilayah Jerman terpecah menjadi banyak kerajaan, kekaisaran kecil, dan negara kota.

Di tengah kegentingan itu, banyak intelektual Jerman mulai mencari sesuatu yang bisa menyatukan bangsa mereka: bahasa, budaya, dan cerita rakyat. Jacob dan Wilhelm Grimm muncul tepat di waktu yang tepat.

Volksgeist dan Jiwa Bangsa

Jacob dan Wilhelm Grimm dipengaruhi konsep Volksgeist dari filsuf Johann Gottfried Herder. Konsep ini menyatakan bahwa "jiwa bangsa" hidup dalam budaya rakyat biasa. Karena itu, dongeng bagi Grimm bukan sekadar hiburan anak-anak. Dongeng adalah cerminan identitas nasional.

Dongeng yang Tidak Sepenuhnya "Jerman"

Ironinya, banyak cerita Grimm ternyata tidak sepenuhnya "asli Jerman". Banyak narator utama mereka adalah perempuan kelas menengah terdidik, beberapa berasal dari keluarga Huguenot-Prancis. Peneliti menemukan pengaruh kuat dongeng Prancis Charles Perrault dalam cerita seperti Cinderella, Sleeping Beauty, dan Little Red Riding Hood.

Tujuh Kali Revisi, Pola yang Jelas

Grimm tidak hanya menerbitkan satu versi lalu selesai. Dari 1812 sampai 1857, buku Grimm mengalami tujuh kali revisi besar. Polanya sangat jelas: seksualitas dihapus, moral Kristen diperkuat, dan perempuan dibuat lebih pasif.

Dalam versi awal Rapunzel, sang penyihir menyadari Rapunzel diam-diam bertemu pangeran karena pakaiannya mulai sempit, petunjuk bahwa ia hamil. Bagian itu kemudian dihapus.

Dalam versi awal Snow White, yang ingin membunuh Snow White adalah ibu kandungnya sendiri. Grimm mengubahnya menjadi ibu tiri, karena sosok ibu biologis dianggap terlalu suci untuk tampil sekejam itu.

Kekerasan Tetap Dipertahankan

Namun kekerasan justru tetap dipertahankan. Di Cinderella, saudari tirinya masih memotong jari kaki dan tumit agar muat memakai sepatu. Di akhir cerita, mata mereka tetap dicungkil burung sebagai hukuman moral.

Artinya Grimm tidak benar-benar membuat dongeng menjadi lebih "aman". Mereka hanya mengganti jenis bahayanya. Seksualitas dihapus, tetapi penderitaan tetap dipertahankan selama bisa menjadi pelajaran moral.

Alat Pendidikan Moral Borjuis

Banyak peneliti melihat bagaimana perempuan dalam revisi Grimm perlahan berubah menjadi figur ideal abad ke-19: cantik, diam, sabar, domestik, dan menunggu diselamatkan. Dongeng akhirnya bukan hanya cerita rakyat, tetapi alat pendidikan moral keluarga borjuis Jerman.

Tanpa Grimm, Cerita Itu Hilang

Namun ada argumen lain yang sama kuatnya. Grimm hidup sebelum ada rekaman suara, ketika tradisi lisan bisa hilang hanya dalam satu generasi. Tanpa Grimm, banyak cerita mungkin benar-benar lenyap.

Jadi pertanyaan besarnya bukan apakah Grimm "menyelamatkan" dongeng atau "merusaknya".

Melainkan: apa yang terjadi ketika negara, agama, dan moralitas mulai mengedit cerita masa kecil kita?

Karena mungkin, dongeng yang kita anggap "abadi" sebenarnya adalah hasil editorial abad ke-19.

Sumber